
“Percaya atau tidak, aku adalah seorang anak yang punya ambisi dan strategi saat masih kecil dulu. Entah kenapa hanya ingin mendokumentasikan saja apa yang telah ku alami dan kusadari sedemikian rupa di masa kanak-kanakku dulu, layaknya seorang anak biasa tapi tidak seperti anak yang lain pada umumnya.”
Waktu saya duduk di kelas 1 SD, tepatnya di sebuah kota kecil pulau sulawesi selatan yaitu Palopo, saya punya sahabat bernama Putu. Dia orang bali, anaknya kurus dan selalu setia menemaniku seorang anak laki-laki yang sejak kecil menikmati waktu tidak seperti anak-anak lain pada umumnya yang seumur itu biasanya diharuskan untuk tidur siang sepulang sekolah. Terkadang selepas makan siang Putu sering ku usik utntuk pergi bermain entah itu memanjat pohon cokelat milik Pak wayan, Ayah Putu. Tapi terkadang dia menjadi seorang anak yang harus tidur siang juga, jadi terpaksa waktu mainku ku habiskan sendiri entah bermain dengan para ayam dan burung yang dipelihara di halaman belakang rumahku. Lanjutkan membaca





